Setiap Selasa pagi, suara gamelan terdengar lembut dari ruang latihan Museum Mpu Purwa. Di sanalah siswa SMP dan SMA Plus Al-Kautsar Malang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler karawitan, sebuah pelajaran budaya yang mengajarkan lebih dari sekadar menabuh alat musik. Dari irama yang teratur dan nada-nada yang saling menyatu, para siswa belajar tentang kesabaran, kerja sama, dan keseimbangan, nilai-nilai penting yang menjadi harmoni antara seni dan karakter.
Seni karawitan menjadi salah satu ekstrakurikuler wajib bagi siswa SMP Plus Al-Kautsar dan SMA Plus Al-Kautsar Malang. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan memperkenalkan warisan budaya Jawa, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter dan kepekaan rasa pada diri peserta didik. Peserta kegiatan adalah siswa kelas 9 SMP serta siswa kelas 10 dan 11 SMA. Mereka berlatih dibawah bimbingan Willyday Namali, seorang seniman yang berpengalaman di bidang seni gamelan dan musik tradisional Jawa. Setiap pelaksanaan kegiatan, siswa berangkat dari sekolah menuju Museum Mpu Purwa menggunakan armada sekolah, didampingi oleh wali kelas masing-masing untuk memastikan keamanan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung. Setelah sesi latihan selesai, siswa kembali ke sekolah dengan tertib menggunakan armada yang sama.
Ekstrakurikuler karawitan dilaksanakan setiap hari Selasa, pada jam sekolah pukul 09.00 hingga 12.00 WIB. Jadwal latihan dibagi menjadi beberapa sesi: pukul 09.00–10.00 WIB untuk SMP, 10.00–11.00 WIB untuk SMA, dan 11.00–12.00 WIB untuk SMP. Kegiatan ini bertempat di Museum Mpu Purwa, sebuah lembaga budaya yang berada dibawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Malang. Museum yang berlokasi di Perumahan Griya Santa, Jl. Soekarno Hatta No. 210 Blok B, Kelurahan Mojolangu, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang ini kerap menjadi mitra bagi sekolah dan Dinas Pendidikan dalam kegiatan edukasi dan pelestarian sejarah.
Karawitan dipilih sebagai kegiatan wajib karena mengandung nilai-nilai pendidikan karakter yang kuat. Dalam karawitan, pemain harus mendengarkan dan menyesuaikan diri dengan bunyi gamelan lain. Setiap ketukan, nada, dan irama saling terkait, tidak boleh menonjol sendiri. Dari situ, seseorang belajar mengenali harmoni, menahan diri, dan mengembangkan rasa musikal yang halus. Nilai ini menumbuhkan sensitivitas estetis, yaitu kemampuan untuk merasakan keindahan dan keseimbangan, baik dalam seni maupun kehidupan sehari-hari.
Karawitan bukanlah permainan individu. Semua instrumen (kendang, saron, bonang, gender, gong, hingga vokal sinden) harus menyatu dalam harmoni kolektif. Anak muda yang belajar karawitan akan terbiasa mendengarkan orang lain, menyesuaikan peran, dan menghargai waktu serta ritme kelompok. Ini mengasah empati dan kemampuan sosial, sesuatu yang sering terkikis di era digital yang serba individualistik. Karawitan juga menuntut ketenangan batin dan kesabaran. Nada-nadanya lembut, mengalir, dan tak bisa dipaksakan. Dalam praktiknya, pemain belajar untuk menjaga emosi agar tidak tergesa, menahan keinginan untuk mendominasi, dan menyeimbangkan rasa dalam diri. Hal ini menumbuhkan kelembutan hati dan kontrol diri, kualitas penting bagi generasi muda yang hidup di tengah dunia cepat dan keras.
Melalui kegiatan karawitan ini, sekolah tidak hanya mengenalkan warisan budaya kepada siswa, tetapi juga menanamkan nilai harmoni, empati, dan kelembutan rasa. Dalam setiap denting gamelan, para siswa belajar bahwa hidup seperti musik, memerlukan keseimbangan antara suara diri dan bunyi orang lain, agar tercipta irama yang indah bersama. (KJT)