Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahi Robbil Alamin

Allahumma Shalli ala sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi wa sallim.

Bapak Ibu penyandang gelar profesi yang mulia yaitu Bapak Ibu Guru, dan anak-anak juga penyandang peran pembelajar yang juga sama-sama mulia.

Awal saya ingin menyampaikan selamat memperingati hari hari Guru, yang sebenarnya ini dijadikan satu dengan berdirinya PGRI yang seharusnya hari Guru itu tanggal 29 November, masih beberapa hari lagi tapi biasanya dijadikan satu.

Bapak Ibu memang PGRI adalah organisasi profesi Guru yang tertua di Indonesia tetapi sekarang sudah banyak organisasi-organisasi lain, jadi Bapak Ibu tidak wajib ikut PGRI  dan boleh ikut yang lain walaupun saya juga pernah menjadi pengurus PGRI walaupun kaki saya sudah di organisasi yang lain. tapi tidak apa-apa, saya hanya akan fokus pada hari ini untuk memperingati hari Guru.

Bapak Ibu dan juga anak-anak, karena ini hari Guru maka nasihat untuk anak-anak nanti dulu sekarang saya ingin berbagi dengan Bapak Ibu Guru.

Mengutip dari Kihajar Dewantara Menteri Pendidikan Republik Indonesia yang pertama beliau mengatakan bahwa “Dengan ilmu kita menuju kemuliaan” artinya kalau tidak menggunakan ilmu tidak akan mulia, jadi ilmu itu begitu pentingnya, Guru ini adalah profesi yang tertua di sepanjang sejarah kehidupan manusia bahkan Rasulullah itu adalah Guru, Mahagurunya Mahaguru yang terbaik yang pernah ada, profesi beliau juga Guru yang utama, jadi Guru itu sebenarnya menjadi profesi kita semua di rumah pun Bapak Ibu itu sebenarnya sudah menjadi Guru, setiap insan, setiap orang itu adalah Guru dan setiap rumah itu adalah sekolah, oleh karena itu sesuai dengan posisi yang sudah diatur sedemikian rupa oleh Allah maka saya ingin menawarkan satu konsep yaitu yang disebut dengan Hidayah Pendidikan, kalau pengajaran boleh dilaksanakan dengan berbagai macam cara.

Anak-anak sering bertanya tentang Hidayah, kalau berdoa ya Allah berikanlah kami Hidayah, coba renungkan kembali kalau doanya masih seperti itu. Hidayah itu seperti sinar matahari ini Bapak Ibu, tanpa diminta Allah sudah memberi, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Hidayah itu ada seperti udara yang kita hirup tidak perlu kita tampung dulu baru dihirup, dimana-mana ada, kemudian juga seperti sinar matahari ini ada terus, kamu menolak juga tidak bisa, walaupun kamu bersembunyi di bunker tetap aja sinar matahari bisa menembus sekecil apapun calah, seperti itu Hidayah. Mengapa ada orang yang diberi Hidayah dan ada yang tidak? karena akhlak dan ilmunya berbeda, semakin berakhlak semakin mudah dia mendapat ilmu semakin luas ilmunya semakin mudah dia mengetahui “ini Hidayah buat saya”.

Sekali lagi sebelum kita meminta Hidayah, Hidayahnya sudah ada dimana-mana hanya kita yang kurang cekatan untuk mengetahui.

Apa inti Hidayah?
Bapak Ibu Guru, Hidayah itu kita pahamkan sebagai pola berpikir atau mindset, saya tawarkan konsep mindset ini, pernah saya tawarkan juga pada tahun 2019 lalu dengan 10 langkah cerdas menuju Indonesia cerdas, salah satunya adalah mindset inklusivitas. Alhamdulillah kita sedang menuju kesana.

Bapak Ibu, dengan Hidayah pendidikan ini kita seharusnya tidak lagi melihat ukuran keberhasilan anak-anak dari berapa jumlah mereka yang bisa membawakan medali, berapa jumlah dari anak-anak ini yang nantinya itu akan lolos semua test, karena test itu standar, tergantung siapa yang bikin alat testnya, kalau Bu Rini yang bikin alat testnya mungkin kalian semua nilainya 100, tapi kalau orang lain yang bikin alat testnya mungkin nilai kalian 50 semua, relatif. Kita tidak ingin terombang ambing dengan hal yang tidak pasti tentang kecerdasan bangsa ini.

Kesuksesan Bapak Ibu sebagai guru adalah ketika bisa melihat anak-anak masuk di dalam masyarakat, diterima dimanapun mereka berada karena ahlaknya, kita tidak perlu bangga ketika anak-anak itu … sekarang juga istilah sekolah favorit sudah mulai harus hilang karena semangat merdeka belajar adalah memfavoritkan semua sekolah, sehingga kalian kalau memilih sekolah adalah yang sesuai dengan kalian bukan yang pengennya orang tua, yang menjadi kebanggaan orang tua itu sudah tidak boleh lagi, namanya juga merdeka, kenapa pilih disini ya? karena disini nyaman karena disini begini-begini harusnya begitu, bukan karena malu sekolah disini, maunya disana karena kelompoknya disana, mengapa kita harus mengkotak-kotakkan diri seperti itu apa kalian mau bilang pakai istilah remaja-remaja bukan circle-ku, gitu. berapa jumlah anak-anak ini nanti yang bisa berkontribusi dimasyarakat yang bisa diterima menembus ruang dan waktu dimanapun mereka berada kapanpun mereka ada, itu baru kesuksesan seorang guru karena kalau hanya nilai dan lain-lain standar itu tergantung siapa yang buat.

Anak-anak, Bu Rini hanya ingin mengatakan bahwa “you can do better than this” kalian itu bisa lebih bagus dari sekarang ini, memang menerima menjadi remaja yang begini-begini aja? yang cuma ribet ngeliatin IG, yang cuma ribet upload-upload foto di IG, you can do better than this, much better than this!. Kalian generasi luar biasa kalau kalian bangga menjadi gen Z Bu Rini sebagai gen X menantang kalian, katanya gen Z itu gen millennial, kreatif, dan mana kreativitasnya? yang bikin komputer, yang bikin HP yang bikin semua digital itu masih gen X, sorry to say belum ada di generasi kalian, kalian hanya konsumen, hanya memakai, itu aja bikin ribut, pencipta inventor-inventor masih di generasi kita-kita nih masih generasinya Bu Rini gen X ada sebagian gen Y yang di awal-awal.

Tugas Bapak Ibu Guru pun disitu, lihat kemajuan zaman, antarkan anak-anak ini ke zamannya, kalau Bapak Ibu Guru juga masih ribet dengan masa lalunya, dulu waktu saya sekolah, sekolah itu bagus anak saya harus ke situ. Jika kelakuannya masih begini kapan anak-anak ini bisa maju, akhirnya yang terjadi adalah gap antara Bapak Ibu Guru yang semakin lama semakin tua ini dengan anak-anak yang berganti terus generasinya itu akan semakin jauh dan itu tidak akan selesai permasalahannya, itu harus didekatkan, siapa yang mendekatkan? kita yang berilmu seharusnya, semua yang berilmu harus begitu.

Anaknya Bu Rini sekarang sudah jadi dokter, 15 tahun yang lalu guru-guru menghadapi anaknya Bu Rini ya seperti itu….

Anak-anak sekarang sudah tidak begitu lagi kelakuannya, sudah beda, masak Bapak Ibu masih tetap seperti dulu. Ingat Hidayah itu kita yang mencari, kita yang mencoba menangkap, jangan hanya berdoa sementara perubahan itu tidak kita lakukan.

Kedua kesuksesan Bapak Ibu Guru adalah ketika anak-anak ini mencintai Bapak Ibu semua, ciri anak mencintai Bapak Ibu Guru adalah melaksanakan, mengamalkan semua yang Bapak Ibu ajarkan, jadi kalau Bapak Ibu Guru hanya mengajarkan ilmu-ilmu teori-teori itu yang dipasang di slide kira-kira akan melaksanakan tidak?, kan sudah tidak cocok sama zamannya, di tetangganya jauh dengan kejadian yang diceritakan di sekolah, yang diceritakan di slide yang Bapak Ibu dapat di masa kuliah 10-15 tahun yang lalu mungkin 20 tahun yang lalu, tentu sudah tidak cocok lagi untuk dunia anak-anak sekarang.

Jadilah Guru yang dicintai.

Dicintai itu bukan disukai, anak-anak pasti suka sama Guru yang tidak suka ngasih tugas, suka sama Guru yang boleh kalian apa-apain, disiplinnya kurang boleh, yang kalau kalian ngomel-ngomel dia tidak marah-marah, bukan itu anak-anak.

Mencintai Guru itu mulia.

Nasib kalian ini nanti di akhirat ditentukan oleh cintanya Guru kalian, Untuk mendapatkan kecintaan guru dengan cara mencintainya, Cara mencintai guru adalah dengan mengamalkan ilmu yang  disampaikannya, contohnya guru berkata “leh bajunya dirapikan, dimasukkan” dan tidak perlu guru mengulang perkataannya anak langsung melakukannya, itu bukti kalian cinta sama Guru, tidak usah gengsi menjadi remaja, kalau menurut sama Guru gengsi tidak keren, yang keren itu yang membantah, yang melanggar aturan sekolah, yang patuh terhadap aturan tidak keren.

Rosul saja mengatakan bahwa “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak”, yang bisa menyempurnakan ahlak itu apa?, bukannya ahlak itu sudah ada pada diri kita?. yang menyempurnakan ahlak itu adalah syariat, syariat itu aturan, dimana-mana ada aturan, syariat itu garis aturan yang paling dasar, jadi kalau kalian menjadi makhluk, gengsi mengikuti aturan, pikir lagi kalian mau tetap di posisi jadi manusia atau keluar dari spesiesnya, karena tidak ada kelompoknya.

Bapak Ibu Guru, mentaati aturan itu menjadi dasar yang sangat penting untuk mengantarkan mereka, cuma tegakkan aturan dengan contoh, tegakkan aturan dengan cinta, tegakkan aturan dengan ketegasan, dan penuh kasih sayang. Coba Bapak Ibu pandangi wajah ananda-andanda kita ini, ada yang tengil tidak? ada yang menyenangkan juga ada yang tengil, ini bagian dari Hidayah Pendidikan, kita tidak bisa memilih tapi mereka dipilihkan oleh Allah untuk bertemu dengan para Guru dengan Bapak Ibu, coba lihat itu yang sebelah-sebelah sana yang sebelah kanannya Bu Rini dia menggemaskan banget mukanya, mereka mau senyum, mereka mau apa, menggemaskan banget pokoknya, wajah-wajah burek udah disana, tapi kreatifnya luar biasa dan selalu bisa membuat Bu Rini bangga disela-sela Bu Rini ngomel juga, ia kan anak-anak?.

Coba Bapak Ibu lihat mereka, ini adalah calon-calon yang akan menggantikan kita semua, yang mereka akan kita lepas melalui gerbang itu masuk ke dalam lingkup masyarakat yang lebih luas, dan itu di tangan Bapak Ibu Guru. Mari mindsetnya kita ubah bukan lagi Bapak Ibu datang untuk mengajari mereka tetapi Bapak Ibu datang untuk membantu mengantarkan mereka, dari masyarakat mereka dititipkan sementara ke kita, digodok baru nanti akan kita kembalikan lagi ke masyarakat dalam bentuk yang sudah berbeda bukan hanya fisiknya tetapi ahlaknya.

Pada anak-anak juga begitu, pendidikan ini intinya ahlak, kalian boleh jadi …  remaja keren itu remaja berahlak.

Waktu itu Bu Rini sudah menyampaikan boleh begini boleh begitu tetapi harus tahu tempat. melanggar aturan dan  melakukan hal-hal yang tidak penting adalah tidak keren sama sekali

Saya mengharapkan Bapak Ibu Guru bisa mengantarkan anak-anak kita sebagai amanah dari Allah melalui orang tua mereka untuk kita bimbing dan kita bina sesuai dengan nilai-nilai yang harusnya kita kembangkan.

Bapak Ibu dan anak-anak, Sumber nilai itu banyak tetapi ada satu nilai yang paling utama, kalian sudah belajar tentang nilai dan  norma yang semua itu sumber utamanya adalah rasa malu, rasa malu itu adalah sumber dari norma. Kalau kalian sudah menjadi aneh tapi kalian cuek, cari-cari pembenaran, berarti kalian sudah kehilangan salah satu nilai utama yang melekat pada diri kalian, berarti kalian sudah mencoba untuk mendobrak dan tidak lagi mengikuti kelompok ini, kelompok yang namanya manusia berakhlak.

Bu Rini pesankan sekali lagi dan berulang-ulang rasa malu itu pertahankan anak-anak, tidak ada yang salah dari itu kita selalu diselamatkan dengan rasa malu.

Bapak Ibu guru,  anak-anak ini mempunyai potensi yang sangat tinggi yang sangat besar, Bapak Ibu juga harus terus menerus mengembangkan diri dengan belajar supaya bisa mengakomodasi kemampuan mereka yang sangat berpotensi untuk melahirkan bangsa yang bermartabat dan mulia.

Jangan jadi sumbu pendek ya anak-anak … jangan jadi pengekor, kalian harus punya prinsip, jangan menunda “nanti aja kalau sudah dewasa”, dewasa atau tidak itu tergantung dari sudut mana kalian melihat.

Begitu yang bisa saya sampaikan Bapak Ibu, jadi sekali lagi ada tawaran konsep Hidayah Pendidikan dalam pengertian kalau sekarang itu menjadi mindset yang open yang harus terbuka, Bapak Ibu bukan lagi mengajar masuk kelas buka buku, mengajar, yang dihadapi ini hidup yang dihadapi ini berkembang, hidayahnya dimana? kita yang temukan.

Itu dari saya.

Terima kasih

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

DR. Dhiah Saptorini, SE, M.Pd